Hukum Tajam ke Bawah, Tumpul ke Atas
Hukum Tajam ke Bawah, Tumpul ke Atas
“Boncengan bertiga? Denda
Rp250.000 atau penjara sebulan.”
“Korupsi miliaran? Vonis 2 tahun, potong masa tahanan, lalu bebas.”
Ironis? Sudah pasti. Tapi sayangnya, itulah wajah hukum kita yang selama ini
dibiarkan begitu saja.
Setiap tahun, "Operasi
Patuh" digelar dengan semangat penegakan disiplin. Pelanggar lalu lintas
ditindak dengan denda tinggi, kadang disertai ancaman kurungan. Negara tampil
tegas di jalan raya. Kamera ETLE memantau setiap gerakan. Petugas berjaga di
tiap simpang. Bagi rakyat biasa, semua jelas dan tak bisa dinego.
Tapi ketika kita alihkan
pandangan ke ruang-ruang kekuasaan; gedung parlemen, kantor kementerian,
ruangan direktur BUMN; ketegasan hukum berubah menjadi negosiasi, lobi, dan
kadang sandiwara.
Kenapa hukum bisa
sedemikian timpang?
Daftar Denda Lalu Lintas : Tegas dan Mahal
Mengutip dari Kompas.com,
inilah daftar pelanggaran dan denda dalam Operasi Patuh 2025 :
1. Menggunakan HP saat Mengemudi → Denda
Rp750.000 / 3 bulan kurungan
2. Mengemudi di Bawah Umur → Denda
Rp1.000.000 / 4 bulan kurungan
3. Boncengan lebih dari dua orang → Denda
Rp250.000 / 1 bulan kurungan
4. Mengemudi dalam pengaruh alkohol →
Denda Rp3.000.000 / 1 tahun kurungan
5. Melawan arus → Denda Rp500.000 / 2
bulan kurungan
6. Melebihi batas kecepatan → Denda
Rp500.000
7. Tidak pakai helm atau seatbelt → Denda
Rp250.000 / 1 bulan kurungan
Bayangkan, hanya karena
tidak mengenakan helm atau sabuk pengaman, seorang buruh atau pelajar bisa dikenai
denda seperempat juta rupiah; jumlah yang cukup lumayan juga untuk pekerja-pekerja dengan pendapatan mepet UMK.
Sementara di tempat lain,
ada orang yang memotong dana bantuan sosial, memperkaya diri dari proyek
fiktif, atau menikmati aliran uang rakyat yang tak pernah sampai ke tujuan.
Hukuman yang dijatuhkan sering kali ringan, bahkan "terlalu
manusiawi" untuk sebuah kejahatan besar.
Bandingkan dengan Korupsi
Berikut beberapa fakta yang
mungkin membuat kita mengelus dada :
·
Kasus
korupsi bansos COVID-19 senilai Rp32 miliar → vonis 12 tahun (turun dari
tuntutan maksimal). Beberapa pelaku lain hanya mendapat 4 tahun.
·
Kasus
suap pengadaan barang/jasa di kementerian → vonis 2–4 tahun, denda relatif
ringan, plus potensi remisi hingga separuh masa hukuman.
·
Banyak
mantan napi korupsi yang kembali menjabat, bahkan mencalonkan diri dalam
pemilu.
Jika dibandingkan, korupsi
merugikan negara secara sistemik. Efeknya tidak hanya pada uang yang hilang,
tapi juga pada kepercayaan masyarakat, kelambatan pembangunan, hingga
bertambahnya kemiskinan. Tapi hukuman yang dijatuhkan sering kali jauh lebih
lunak dari sekadar pelanggaran helm.
Kenapa Bisa Begini?
Ada beberapa alasan mengapa
hukum tampak lebih tegas pada rakyat kecil dibandingkan pada pelanggar besar :
1.
Akses
pada keadilan tidak merata
Orang biasa tidak punya akses ke pengacara mahal, tidak paham celah hukum, dan
tidak memiliki “teman di dalam”.
2.
Hukum
prosedural vs keadilan substantif
Pelanggaran lalu lintas mudah dibuktikan, langsung bisa ditindak. Tapi korupsi
memerlukan penyelidikan panjang, pembuktian rumit, dan sering diselimuti banyak
kepentingan.
3.
Ketimpangan
kekuasaan dan keberanian penegak hukum
Menindak rakyat kecil tidak menimbulkan risiko politik. Tapi menindak pejabat
bisa berbuntut panjang, bahkan mengancam karier penegaknya sendiri.
4.
Kultur
permisif terhadap elite
Masyarakat kita cenderung memaafkan orang besar yang “berderma” meski hartanya
hasil korupsi. Sebaliknya, orang kecil yang salah sedikit langsung dicap buruk.
Akibatnya Apa?
Ketimpangan ini membuat
rakyat kehilangan kepercayaan terhadap sistem hukum. Banyak yang akhirnya
bersikap sinis :
“Yang penting bukan benar
atau salah, tapi siapa kamu dan siapa yang kamu kenal.”
Ketika rasa keadilan tak
lagi hidup, masyarakat akan mulai mengabaikan hukum. Lalu lintas jadi semrawut,
pungli dianggap biasa, dan praktik akal-akalan dijadikan cara bertahan. Hukum
bukan lagi pagar moral, tapi hanya alat kontrol bagi mereka yang tak punya
kuasa.
Apa yang Bisa Dilakukan?
1.
Kita
perlu jujur mengakui ada masalah serius dalam sistem hukum.
Tanpa pengakuan, tidak akan ada perubahan.
2.
Dorong
transparansi dan akuntabilitas di lembaga penegak hukum.
Kasus-kasus besar harus ditangani terbuka dan diawasi publik.
3.
Reformasi
pendidikan hukum.
Cetak penegak hukum yang tidak hanya pintar soal pasal, tapi juga peka pada
nilai keadilan sosial.
4.
Kita
sendiri sebagai warga, jangan permisif.
Tidak usah tepuk tangan saat koruptor bagi-bagi sembako, apalagi memujanya
seperti pahlawan.
Refleksi Pribadi
Sebagai warga biasa, saya
pernah kena tilang hanya karena tidak menyalakan lampu di siang hari. Petugas
tegas, tidak bisa nego. Saya bayar denda, selesai. Tapi melihat berita tentang
pejabat yang makan uang rakyat dan hanya dihukum ringan, rasanya bukan hanya
tidak adil, tapi menyakitkan.
Apakah hidup di negara ini
berarti kita harus pasrah dengan wajah hukum yang berbeda-beda tergantung
dompet dan jabatan?
Saya kira tidak. Kita boleh
kecewa, tapi jangan berhenti peduli. Karena kalau semua orang memilih diam,
hukum akan makin jauh dari rasa keadilan.
Hukum yang Membela atau Menindas?
Hukum seharusnya menjadi
pelindung rakyat, bukan alat penindasan. Tapi saat ini, rasa keadilan sering
terasa hanya berlaku untuk yang lemah.
Operasi Patuh memang penting. Disiplin berlalu
lintas menyelamatkan nyawa. Tapi negara juga perlu operasi patuh moral,
menyapu bersih penyalahgunaan kekuasaan, bukan hanya memfoto pengendara yang
lupa seatbelt.
Karena pada akhirnya, yang
membuat rakyat benar-benar patuh bukan ketakutan pada denda, tapi rasa percaya
bahwa hukum berdiri untuk semua; bukan hanya untuk sebagian.
Kutipan Reflektif Harian
“Boncengan bertiga kena kurungan,
korupsi milyaran cuma ditahan ringan. Hukum di negeri ini kadang lebih garang
ke yang lemah, dan begitu lembut ke yang berkuasa.”
Hari ini mari kita bertanya :
Apakah kita masih percaya hukum ditegakkan dengan adil? Atau sudah terbiasa
melihat keadilan hanya untuk yang punya posisi dan koneksi?
Kadang bukan pelanggaran kecil yang
menyakitkan, tapi ketimpangan cara negara memperlakukannya. Ketika helm lusuh
dihukum, tapi mobil mewah yang penuh suap tetap melenggang; di situlah rasa
percaya mulai runtuh.
Komentar
Posting Komentar