Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2025

Belum Se-Rich Itu, Baru Tahap Crazy-nya

Gambar
  “Aku Belum Se-Rich Itu, Baru Tahap Crazy-nya Saja…” Kita hidup di zaman ketika orang bisa terlihat kaya di Instagram , sambil makan mie instan tiga kali sehari di dunia nyata. Ketika " healing " jadi kebutuhan pokok, tapi gaji bahkan belum cukup untuk isi pulsa dan bayar parkir. Lalu di tengah absurditas ini, muncullah kalimat jujur sekaligus menyentil : “Aku belum se-rich itu, baru tahap crazy-nya saja…”   Kalimat ini bukan cuma lucu. Ini pengakuan sosial. Sejenis kode rahasia generasi pekerja : kami belum kaya, tapi kami sudah cukup gila untuk tetap bertahan.   Akhir Bulan dan Awal Gila Dulu, kegilaan itu terlihat : orang berbicara sendiri, tertawa-tawa. Sekarang? Gila itu tenang. Terorganisir. Tersenyum di balik PowerPoint yang tidak selesai-selesai. Di dompet ada Rp11.000, di grup WhatsApp keluarga ditagih urunan arisan, dan di pikiran hanya satu : “Masih bisa pakai PayLater .” Dunia kerja modern seperti ajang gladi bersih untuk stres.   ...

Belajar Tanggap pada Sapaan Tuhan

Gambar
  Ketika Kalimat Indah Jadi Hiasan, Bukan Petunjuk Kita seringkali membaca atau membagikan kutipan seperti ini : “Bukan aku yang mampu, tapi Allah yang menolongku.” “Bukan aku yang kuat, tapi Allah yang menguatkanku.” “Bukan aku yang pintar, tapi Allah yang memberiku pemahaman.” Kalimat-kalimat seperti ini indah. Menenangkan. Cocok untuk status WhatsApp , IG Story , atau stiker di belakang HP. Tapi kemudian muncul satu pertanyaan penting : “Kalau aku hidup dengan pemahamanku sendiri, tanpa berusaha menjangkau maunya Tuhan , bagaimana mungkin aku bisa sungguh meresapi dan menghidupi kata-kata itu?” Jangan-jangan selama ini kita hanya mengoleksi kata-kata rohani seperti hiasan rumah. Tampak bagus, tapi tidak kita hirup, tidak kita telan, apalagi kita cerna. Kalimat itu berhenti jadi kata, tidak menjadi jalan hidup.   Bagaimana Memulai Menanggapi Sapaan Tuhan? Tuhan tak hadir dalam guntur atau petir. Ia menyapa lewat keseharian : suara hati , percakapan dengan ...

Apapun yang dari Tuhan, Tidak Akan Mempermalukan Umat-Nya

Gambar
Ada masa-masa dalam hidup kita ketika segalanya terasa gelap.  Doa terasa hampa, langkah terasa berat, dan keputusan yang kita ambil, meski dilandasi niat baik, tampak berakhir dalam kebingungan atau kegagalan. Namun di tengah semua itu, ada satu pegangan yang pelan-pelan menguatkan batin : “Apapun yang dari Tuhan, tidak akan mempermalukan kami sebagai umat-Nya.”   Apa Makna dari Kalimat Ini? Kalimat ini bukan berarti bahwa setiap jalan dari Tuhan akan tampak mulus, megah, dan bebas dari rintangan. Bukan juga jaminan bahwa kita akan selalu berhasil secara duniawi. Tapi ini adalah pernyataan iman; sebuah kepercayaan dalam hati bahwa jika sesuatu sungguh berasal dari Tuhan, maka akhirnya tidak akan membawa kita kepada kehinaan, penyesalan yang sia-sia, atau kebinasaan. Tuhan tidak menciptakan rancangan untuk mempermalukan umat-Nya. Dia mungkin mengizinkan ujian dan keterpurukan, tapi bukan untuk menjatuhkan kita, melainkan untuk memurnikan, menguatkan, dan menegakkan....

Total Kunjungan :