Belum Se-Rich Itu, Baru Tahap Crazy-nya
“Aku Belum Se-Rich Itu, Baru Tahap Crazy-nya Saja…” Kita hidup di zaman ketika orang bisa terlihat kaya di Instagram , sambil makan mie instan tiga kali sehari di dunia nyata. Ketika " healing " jadi kebutuhan pokok, tapi gaji bahkan belum cukup untuk isi pulsa dan bayar parkir. Lalu di tengah absurditas ini, muncullah kalimat jujur sekaligus menyentil : “Aku belum se-rich itu, baru tahap crazy-nya saja…” Kalimat ini bukan cuma lucu. Ini pengakuan sosial. Sejenis kode rahasia generasi pekerja : kami belum kaya, tapi kami sudah cukup gila untuk tetap bertahan. Akhir Bulan dan Awal Gila Dulu, kegilaan itu terlihat : orang berbicara sendiri, tertawa-tawa. Sekarang? Gila itu tenang. Terorganisir. Tersenyum di balik PowerPoint yang tidak selesai-selesai. Di dompet ada Rp11.000, di grup WhatsApp keluarga ditagih urunan arisan, dan di pikiran hanya satu : “Masih bisa pakai PayLater .” Dunia kerja modern seperti ajang gladi bersih untuk stres. ...