Apapun yang dari Tuhan, Tidak Akan Mempermalukan Umat-Nya


Ada masa-masa dalam hidup kita ketika segalanya terasa gelap. Doa terasa hampa, langkah terasa berat, dan keputusan yang kita ambil, meski dilandasi niat baik, tampak berakhir dalam kebingungan atau kegagalan.

Namun di tengah semua itu, ada satu pegangan yang pelan-pelan menguatkan batin :
“Apapun yang dari Tuhan, tidak akan mempermalukan kami sebagai umat-Nya.”

 

Apa Makna dari Kalimat Ini?

Kalimat ini bukan berarti bahwa setiap jalan dari Tuhan akan tampak mulus, megah, dan bebas dari rintangan. Bukan juga jaminan bahwa kita akan selalu berhasil secara duniawi. Tapi ini adalah pernyataan iman; sebuah kepercayaan dalam hati bahwa jika sesuatu sungguh berasal dari Tuhan, maka akhirnya tidak akan membawa kita kepada kehinaan, penyesalan yang sia-sia, atau kebinasaan.

Tuhan tidak menciptakan rancangan untuk mempermalukan umat-Nya. Dia mungkin mengizinkan ujian dan keterpurukan, tapi bukan untuk menjatuhkan kita, melainkan untuk memurnikan, menguatkan, dan menegakkan.

 

Mengapa Kita Sering Ragu?

Sering kali kita meragukan jalan yang kita tempuh, bahkan setelah banyak berdoa. Kita bertanya-tanya :

·       "Benarkah ini dari Tuhan?"

·       "Kalau ini dari Tuhan, mengapa hasilnya buruk?"

·       "Mengapa justru aku merasa lebih lelah dan malu setelah memilih jalan ini?"

Keraguan ini manusiawi. Tapi kadang keraguan muncul bukan karena jalannya salah, melainkan karena kita terlalu cepat menilai hasil, terlalu ingin melihat buahnya sekarang juga, tanpa mau sabar menanti musimnya tiba.

 

Membedakan yang dari Tuhan dan yang bukan

Untuk bisa meyakini bahwa suatu jalan benar-benar dari Tuhan, kita perlu membentuk kepekaan batin. Ini tidak datang dalam semalam, tapi bisa dilatih. Berikut beberapa pola yang bisa membantu :

 

1. Selaraskan Niat, Bukan Sekadar Hasil

Tanyakan pada dirimu :

“Untuk apa aku memilih ini? Demi siapa aku menjalani ini?”

Jika jawabannya murni; bukan sekadar demi gengsi, ambisi, atau pelarian; maka kemungkinan besar niatmu sudah selaras. Jalan yang dari Tuhan tidak selalu dimulai dari langkah besar. Tapi selalu dimulai dari niat yang jujur dan tidak egois.

Contoh sederhana :
Seseorang memutuskan meninggalkan pekerjaan bergaji besar karena merasa hatinya tidak damai dan tidak bisa jujur di sana. Banyak orang mungkin mencibir, tapi jika keputusannya lahir dari hati yang jujur dan berserah, maka Tuhan akan menjaga kehormatannya, meski sempat dicemooh.

 

2. Periksa Damai di Hati

Ini ukuran yang sangat penting. Keputusan yang datang dari Tuhan biasanya membawa rasa damai meskipun menantang. Bukan berarti bebas cemas, tapi ada rasa mantap meski belum tahu hasilnya.

Sebaliknya, keputusan yang bukan dari Tuhan seringkali membuat kita merasa gelisah walau terlihat menguntungkan di awal.

Tanyakan :

“Apakah hatiku damai saat mengambil keputusan ini?”
“Apakah aku merasa tenang meskipun belum tahu hasilnya?”

 

3. Uji Melalui Waktu dan Proses

Yang dari Tuhan tidak instan. Ia bertumbuh pelan-pelan, seperti benih yang perlu waktu untuk menjadi pohon. Tuhan tidak terburu-buru. Maka jika sesuatu tumbuh dengan baik dan semakin meneguhkan iman serta karaktermu, besar kemungkinan itu dari Tuhan.

Yang dari Tuhan :

·       Membentuk kesabaran

·       Menguatkan batin

·       Memurnikan niat

·       Membuat kita belajar rendah hati

Yang bukan dari Tuhan :

·       Mendorong kita untuk cepat puas

·       Menumbuhkan kesombongan

·       Mengikis kejujuran

·       Membuat kita mengandalkan diri sendiri saja

 

4. Perhatikan Buahnya

Seperti pohon dikenal dari buahnya, jalan hidup yang benar dikenal dari dampaknya.

Kalau sesuatu dari Tuhan, biasanya :

·       Menghasilkan buah kebaikan : kesabaran, kasih, pengampunan, pertumbuhan.

·       Membawa manfaat tidak hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang lain.

·       Meningkatkan kepekaan rohani, bukan hanya keuntungan pribadi.

Jalan dari Tuhan mungkin membuat kita menangis, tapi tidak akan membuat kita membenci hidup. Sebaliknya, kita jadi lebih mengasihi hidup, lebih menyadari bahwa semuanya adalah anugerah, dan lebih terbuka terhadap pertolongan Tuhan.

 

5. Selalu Buka Diri Terhadap Koreksi

Jalan dari Tuhan tidak membuat kita keras kepala. Kita tetap terbuka terhadap masukan, refleksi, dan koreksi.

Kadang kita berpikir, “Aku yakin ini dari Tuhan,” padahal sesungguhnya kita hanya ingin membenarkan pilihan kita. Maka penting untuk terus bertanya :

“Apakah aku siap berubah jika ternyata aku salah mengira jalan ini?”

Orang yang sungguh berjalan bersama Tuhan tidak takut salah, karena tahu bahwa Tuhan bisa mengubah arah tanpa mempermalukan mereka. Yang penting adalah kesediaan untuk terus mendengarkan dan dibimbing.

 

Tuhan Tidak Mempermalukan, Dunia yang Menilai Terlalu Cepat

Yang sering mempermalukan kita sebenarnya bukan Tuhan, melainkan :

·       Standar keberhasilan dunia

·       Penilaian orang lain yang dangkal

·       Ekspektasi kita sendiri yang tidak sabar

Bayangkan seorang nabi, seorang rasul, atau seorang martir. Banyak dari mereka dianggap gagal oleh dunia. Tapi dalam pandangan Tuhan, mereka sangat mulia.

 

Jangan Malu Berjalan Bersama Tuhan

Banyak orang takut memilih jalan Tuhan karena takut tampak lemah, kuno, atau “tidak keren.” Tapi kebenaran tidak pernah usang. Dan yang berjalan dalam terang tidak akan tersandung, bahkan jika sesekali terjatuh.

Ingat :
Lebih baik gagal secara duniawi karena taat kepada Tuhan, daripada berhasil secara duniawi karena mengabaikan-Nya.

 

Iman yang Menguatkan Hati

Kita tidak hidup untuk dinilai oleh orang. Kita hidup untuk menyelesaikan bagian kita dengan setia. Kadang dunia akan salah paham. Tapi Tuhan tidak pernah salah melihat isi hati.

Jadi ketika kamu sudah memilih sesuatu dengan jujur, penuh doa, dan pertimbangan, lalu jalan itu membuatmu jatuh, jangan langsung putus asa.

Tanyakan :

“Apakah aku memilih ini karena percaya pada-Nya?”
“Apakah aku menghidupi pilihan ini dengan kasih, kejujuran, dan kesetiaan?”

Jika ya, maka peganglah ini baik-baik :

Tuhan tidak akan mempermalukanmu.
Tuhan tidak akan mempermalukan umat-Nya.

Apa yang tampak seperti kegagalan hari ini, bisa jadi adalah panggung kemuliaan di hari esok.

 

Catatan Waras
Sebab menjadi waras bukan soal selalu menang, tapi soal tetap berdiri tegak dengan damai di hati meski dunia tidak mengerti

Komentar

Total Kunjungan :