Belum Se-Rich Itu, Baru Tahap Crazy-nya
“Aku Belum Se-Rich Itu, Baru Tahap Crazy-nya Saja…”
Kita hidup di zaman ketika
orang bisa terlihat kaya di Instagram, sambil makan mie instan tiga kali sehari
di dunia nyata. Ketika "healing" jadi kebutuhan pokok, tapi gaji
bahkan belum cukup untuk isi pulsa dan bayar parkir. Lalu di tengah absurditas
ini, muncullah kalimat jujur sekaligus menyentil :
“Aku belum se-rich itu,
baru tahap crazy-nya saja…”
Kalimat ini bukan cuma
lucu. Ini pengakuan sosial. Sejenis kode rahasia generasi pekerja : kami belum
kaya, tapi kami sudah cukup gila untuk tetap bertahan.
Akhir Bulan dan Awal Gila
Dulu, kegilaan itu terlihat
: orang berbicara sendiri, tertawa-tawa. Sekarang? Gila itu tenang. Terorganisir.
Tersenyum di balik PowerPoint yang tidak selesai-selesai.
Di dompet ada Rp11.000, di grup WhatsApp keluarga ditagih urunan arisan, dan di
pikiran hanya satu : “Masih bisa pakai PayLater.”
Dunia kerja modern seperti
ajang gladi bersih untuk stres.
Kita menjalani hidup
seperti kata Hunter
S. Thompson :
“Buy the ticket, take
the ride.”
Tapi kadang kita tak sadar,
tiket yang kita beli adalah tiket ke wahana ‘lelah berjamaah’, bukan taman
hiburan.
Ngopi, Ngegas, Ngutang
Fenomena kopi mahal di
tengah gaji minimal bukan paradoks. Itu strategi bertahan. Ngopi itu bukan gaya
hidup, tapi sewa sementara untuk kesehatan mental. Sejenak kita bisa merasa : “aku pantas dimanusiakan.”
Kita kerja keras, tapi
belum kaya. Kita paham konsep passive income, tapi yang aktif justru tagihan.
Kita jago mengatur waktu, tapi sering lupa kapan terakhir kali benar-benar
tidur nyenyak.
Albert Einstein pernah bilang,
“The definition of
insanity is doing the same thing over and over again and expecting different
results.”
Tapi coba katakan itu pada
orang yang tiap bulan gajinya habis di tanggal 15, dan tetap berharap bulan
depan bisa lebih baik.
Karyawan Teladan, Pasien Potensial
Lelah itu default. Kita
bangga jadi karyawan teladan, tapi tidak sadar bahwa kita juga kandidat kuat
pasien burnout. Bangun pagi, kerja sampai larut, meeting Zoom yang berlanjut
jadi diskusi grup sampai malam, dan tidur dengan otak tetap menyala.
Padahal seperti kata Voltaire,
“The art of medicine
consists of amusing the patient while nature cures the disease.”
Dan dalam konteks kita,
hiburannya mungkin adalah TikTok 5 menit sebelum tidur. Atau meme-meme seputar
quarter-life crisis yang menghibur karena... menyedihkan.
Crazy Rich vs Crazy Real
TV dan internet penuh
dengan konten "Crazy Rich." Sementara mayoritas dari kita adalah
"Crazy Real"; realistis gila.
·
Gila
karena bisa kerja 12 jam sehari, tapi tetap dihantui pertanyaan "kapan
punya rumah?"
·
Gila
karena belajar manajemen waktu, manajemen emosi, bahkan manajemen hutang.
·
Gila
karena belajar tersenyum di depan bos, padahal dalam hati ingin resign dan jual
gorengan di desa.
Charles Bukowski menulis :
“Some people never go
crazy. What truly horrible lives they must lead.”
Ironis, ya? Karena kita
semua sudah di level gila. Tapi justru itu yang membuat kita masih merasa
hidup. Karena setidaknya, kita tidak mati rasa.
Standar Sukses yang Absurd
Sukses hari ini bukan soal
pencapaian, tapi soal bertahan. Tapi dunia terus menuntut :
·
Usia
25 : harus sudah mapan.
·
Usia
30 : harus sudah nikah.
·
Usia
35 : harus sudah punya rumah dan mobil.
·
Usia
40 : harus punya rencana pensiun.
·
Usia
45 : harus sudah investasi properti.
Yang tidak disebut adalah :
·
Usia
25 : baru bisa beli sepatu ori setelah 3 tahun kerja.
·
Usia
30 : masih kontrak dan rawan dipecat.
·
Usia
35 : masih bingung bayar uang sekolah anak.
·
Usia
40 : masih jadi tulang punggung keluarga besar.
·
Usia
45 : badan sudah mulai ngilu, tapi tagihan tetap muda dan enerjik.
Kita bukan gagal. Kita cuma
hidup di dunia yang standar keberhasilannya ditulis oleh segelintir orang yang
sudah lahir dekat garis finish.
Gila, Tapi Tahu Pulang
Lucunya, kita tetap bangun
pagi. Tetap kerja. Tetap bisa bercanda. Di balik kelelahan itu, ada sesuatu
yang membuat kita terus melangkah.
Friedrich Nietzsche pernah berkata,
“He who has a why to
live can bear almost any how.”
Kita gila, tapi tahu kenapa
kita bertahan. Entah itu untuk anak, untuk orang tua, atau bahkan untuk janji
kecil pada diri sendiri : “Suatu
hari aku juga akan hidup lebih tenang.”
Waras Adalah Bentuk Perlawanan
Jadi kalau kamu merasa
capek, merasa tidak cukup, merasa gila tapi belum kaya; selamat. Kamu tidak
sendiri.
Kita semua sedang berjalan
di jalan absurd bernama “realita ekonomi modern”, mengenakan sepatu retak tapi
tetap senyum karena itu bagian dari peran.
Dan slogan itu,
“Aku belum se-rich itu,
baru tahap crazy-nya saja…”
bukan sekadar kalimat lucu.
Itu pengingat bahwa kita
sedang berjuang. Dengan cara kita. Dengan kegilaan yang terorganisir. Dengan
harapan yang mungkin kecil, tapi nyata.
Teruskan, pejuang waras.
Dunia boleh bikin kita gila, tapi jangan sampai kehilangan arah. Karena kita
memang belum kaya; tapi kita sudah cukup kuat untuk tidak menyerah.
Dan jika suatu hari nanti kamu benar-benar jadi “rich”, semoga kamu
masih mengingat fase crazy ini. Bukan untuk ditertawakan, tapi untuk disyukuri.
Karena di sanalah kamu ditempa. Di antara gaji pas-pasan, lelah berkepanjangan,
dan tawa getir yang tetap kamu bagikan di grup WhatsApp.
Kamu belajar membedakan mana kenyataan dan pencitraan. Mana bahagia
beneran dan yang hanya editan. Kamu belajar bahwa waras adalah pilihan harian,
bukan kondisi default.
Dan itu, Mas, Mbak, bukan kegagalan.
Itu latihan mental. Itu keberanian. Itu ketahanan. Dan ya, itu bentuk
lain dari sukses; yang tidak bisa ditunjukkan lewat saldo rekening, tapi terasa
lewat cara kamu memandang hidup hari ini.
Kutipan Reflektif Harian
“Hari ini aku mungkin belum kaya. Tapi aku cukup waras untuk tahu batas.
Cukup sadar untuk tidak membandingkan prosesku dengan hasil jadi orang lain.
Dan cukup berani untuk tetap melangkah, meski dengan hati yang lelah dan sepatu
yang mulai aus. Karena aku tahu, setiap langkah kecil yang kuambil hari ini,
sedang mengantar aku pulang ke versi diriku yang lebih kuat, lebih damai, dan
lebih jujur.”
Komentar
Posting Komentar