Kita Usahakan Lagi : Doa Para Pekerja yang Hampir Menyerah
Lagu yang Menyuarakan Nafas Pekerja
Bayangkan seorang buruh pabrik yang
setiap pagi bangun lebih awal dari cahaya matahari. Ia menyiapkan bekal
sederhana, berpamitan singkat pada anak dan istrinya, lalu berangkat ke tempat
kerja dengan motor tua yang harus ia rawat dengan penuh perhitungan. Di jalan,
pikirannya tidak tenang—bukan karena pekerjaan di pabrik, melainkan karena
tagihan yang menunggu di rumah.
Di momen-momen seperti itulah,
sebuah lagu sederhana bisa jadi doa. Lagu Kita Usahakan Lagi bukan
sekadar susunan kata yang indah, melainkan gema dari hati para pekerja yang
hampir menyerah. Ia adalah nyanyian kelelahan, tetapi sekaligus pernyataan iman
bahwa masih ada alasan untuk bangun besok pagi.
"Orang yang berhenti berharap sama saja dengan orang yang berhenti
hidup." — Albert Camus
Makna Lirik dalam Konteks Pekerja
“Ada bahagia yang belum kita rasa,
setelah bersama usahakan semua…” Lirik ini menggambarkan kenyataan bahwa banyak
pekerja berjuang tanpa pernah benar-benar merasakan buah dari keringatnya.
Bahagia itu seakan tertunda, ditangguhkan entah sampai kapan.
Namun kalimat berikutnya “Segala
upaya apapun kita coba, dan tak pernah lelah, ku serahkan padaNya…”
mengisyaratkan bahwa di balik rasa frustrasi, ada sikap pasrah. Pekerja tidak
berhenti berusaha, tetapi menyadari batas kemampuannya sebagai manusia.
"Berdoalah seakan-akan segalanya bergantung pada Tuhan, bekerjalah
seakan-akan segalanya bergantung padamu." — St. Agustinus
Keresahan Pekerja di Dunia Nyata
Lirik tentang menunggu “hari ini,
minggu depan, bulan depan, atau tahun depan” sebetulnya adalah metafora dari
penantian panjang pekerja. Bagi sebagian, harapan itu berbentuk kenaikan gaji.
Bagi yang lain, kontrak kerja yang tak kunjung tetap. Bagi sebagian lagi, hanya
sekadar bisa pulang membawa belanja harian tanpa harus berutang.
Keresahan pekerja nyata bisa
disarikan menjadi empat dimensi :
1. Ekonomi
– gaji yang tak sebanding dengan kebutuhan hidup.
2. Psikologis
– rasa lelah, frustrasi, kadang sampai ingin menyerah.
3. Sosial
– perasaan tidak dianggap, sekadar “alat produksi”.
4. Spiritual
– doa yang seakan tak dijawab, meski telah lama dipanjatkan.
"Kerja keras tidak selalu langsung berbuah, tapi tanpa kerja keras
tidak ada buah yang bisa dipetik." — Confucius
Doa yang Terselip di Balik
Kelelahan
Lagu ini sejatinya adalah doa
panjang. Kata-kata repetitif “Jika tidak hari ini, mungkin minggu depan…”
ibarat doa Rosario yang terus diulang, bukan karena Tuhan tuli, tetapi karena
manusia butuh penguatan.
Pekerja berdoa bukan hanya dengan
kata-kata, melainkan dengan keringat, perjalanan jauh, lembur panjang, bahkan
dengan tangis yang ditahan. Semua itu adalah bentuk doa yang terdengar di
langit, meski di bumi sering terasa sunyi.
"Doa adalah nafas jiwa. Tanpanya, kita akan mati secara
rohani." — Mahatma Gandhi
Kekuatan ‘Mengusahakan Lagi’
Kata kunci dari lagu ini adalah
“lagi”. Satu kata sederhana yang berarti pekerja tidak berhenti di kegagalan
pertama. Ia mencoba lagi, jatuh lagi, bangkit lagi. Kata “lagi” menjadi simbol
keteguhan dan kesetiaan pada hidup.
Dalam psikologi, sikap ini dikenal
sebagai resilience—kemampuan untuk bangkit kembali setelah terpuruk.
Lagu ini, dengan bahasa sederhana, mengajarkan filosofi itu.
"Kekuatan bukan berasal dari kemenangan. Perjuangan kitalah yang
membentuk kekuatan." —
Mahatma Gandhi
Dimensi Kolektif : Kita, Bukan
Aku
Menariknya, lagu ini tidak memakai
kata “aku”, melainkan “kita”. Seolah penulis lagu tahu bahwa pergumulan pekerja
bukanlah perjalanan pribadi, melainkan kisah kolektif.
Seorang buruh tidak hanya berjuang
untuk dirinya, tapi untuk keluarga. Seorang ayah bekerja bukan demi gengsi,
tapi demi susu anaknya. Kata “kita” mengandung dimensi solidaritas—antara
pekerja dengan keluarganya, antara pekerja dengan rekan seperjuangan.
"Jika kamu ingin berjalan cepat, berjalanlah sendiri. Jika kamu
ingin berjalan jauh, berjalanlah bersama." — Pepatah Afrika
Pelajaran Hidup dari Lagu Ini
Apa yang bisa kita pelajari dari
lagu ini?
1. Kesabaran
– hidup tidak bisa dipaksa selesai hari ini.
2. Makna
kegagalan – ia bukan akhir, melainkan bagian dari perjalanan.
3. Iman
yang diuji – ketika doa terasa hampa, justru iman dilatih.
4. Gerak
terus-menerus – keberhasilan sering milik mereka yang mau mencoba
lagi.
"Kegagalan hanyalah kesempatan untuk memulai lagi dengan lebih
cerdas." — Henry Ford
Inspirasi untuk Pekerja
Bagaimana lagu ini bisa menguatkan
pekerja sehari-hari? Ada beberapa cara :
1. Ingat
alasan utama bekerja : keluarga, masa depan, dan martabat diri.
2. Jaga
doa : biarkan setiap aktivitas menjadi bentuk doa.
3. Cari
support system : jangan menanggung beban sendirian.
4. Rangkai
ulang makna kerja : bukan sekadar cari gaji, tapi bagian dari panggilan hidup.
"Orang yang memiliki alasan untuk hidup, dapat menanggung hampir
segala cara untuk hidup."
— Friedrich Nietzsche
Manfaat Lagu bagi Hidup Beragama
dan Bekerja
·
Sebagai pengingat iman : hasil
ada di tangan Tuhan.
·
Sebagai penguat pekerja : tetap
ada waktu untuk mencoba lagi.
·
Sebagai sumber refleksi : hidup
bukan tentang cepat, melainkan konsistensi.
·
Sebagai jembatan harapan :
bahwa harapan tidak pernah usang.
"Ketika kamu berjalan melalui neraka, teruslah berjalan." — Winston Churchill
Penutup yang Menggugah
Pada akhirnya, Kita Usahakan
Lagi adalah lagu doa, lagu perjuangan, dan lagu pengharapan. Ia lahir dari
keresahan, tetapi justru memberi daya hidup baru. Lagu ini mengingatkan kita
bahwa mungkin hasil tak datang hari ini, tapi ada hari esok yang layak
diperjuangkan.
Kita, para pekerja, diajak untuk
tidak berhenti. Besok pagi, bangunlah, berangkatlah, usahakan lagi, karena
waktunya pasti akan datang.
"Harapan adalah hal dengan bulu yang hinggap di jiwa, bernyanyi
tanpa kata, dan tak pernah berhenti." — Emily Dickinson
Refleksi Harian (Pesan Penulis)
“Hari ini mungkin terasa berat, hasil kerja belum terlihat, doa belum
terjawab. Tapi jangan biarkan itu mematikan nyalamu. Bangun besok pagi, ucapkan
syukur, dan katakan pada dirimu : kita usahakan lagi.”
Komentar
Posting Komentar