Aroma Serangan Fajar
Bau yang Tak Terhindarkan
Politik Wakanda kerap diibaratkan
sebagai sebuah drama penuh peran, namun ada satu metafora yang lebih pas :
kentut. Penghuni gedung parlemen yang terhormat, yang mendapatkan gaji dan
tunjangan luar biasa besar, ibarat orang yang akhirnya bisa buang angin, merasa
lega setelah menahannya sekian lama. Sebaliknya, rakyat yang hidup dalam
kesulitan justru menjadi pihak yang harus mencium baunya, meski tak pernah ikut
menikmati kelegaannya. Dan ironisnya, aparat kepolisian yang sebenarnya tidak
ikut menentukan kebijakan malah menjadi pihak yang dituduh atau bahkan babak
belur saat bentrok dengan massa. Sebuah lingkaran aroma yang menyesakkan,
tetapi entah mengapa selalu berulang.
“Kebebasan berarti tanggung
jawab. Itulah mengapa kebanyakan orang takut padanya.” – George Bernard Shaw
Serangan Fajar = Serangan Kentut
Serangan fajar, istilah yang sudah
akrab dalam setiap pemilu di Wakanda, sebenarnya tak ubahnya seperti kentut
dini hari. Tak terlihat, tiba-tiba, dan aromanya mampu membuat orang kehilangan
logika. Uang Rp50 ribu atau Rp100 ribu yang diselipkan ke tangan rakyat jelata
di pagi buta seakan jadi parfum mahal yang mampu menghapus rasa kecewa
bertahun-tahun terhadap wakil rakyat. Padahal, efeknya sama seperti kentut :
sementara. Begitu bau hilang, realitas pahit kembali datang. Ironinya, bau
kentut ini justru dihormati, dicari, dan dirindukan oleh sebagian masyarakat
menjelang pemilu.
“Harga diri tidak bisa dibeli,
tapi bisa dijual murah oleh mereka yang tidak menghargainya.” – Mahatma Gandhi
Siapa yang Sebenarnya Bodoh?
Pertanyaan yang sering muncul :
siapa sebenarnya yang bodoh dalam permainan ini? Apakah penghuni gedung
parlemen yang terhormat yang terus-menerus mengeluarkan kentut politik dalam
bentuk serangan fajar? Atau rakyat yang dengan sukarela membuka hidung dan
menghirupnya dalam-dalam? Ironi terbesarnya adalah rakyat yang merasa marah
setiap kali kebijakan penghuni gedung parlemen yang terhormat mencederai
nurani, tetapi tetap dengan ringan hati menerima amplop saat pemilu. Sama
seperti pembeli yang terus membeli barang murahan, pedagang tentu tak akan
berhenti menjualnya.
“Kebodohan terbesar adalah
melakukan hal yang sama berulang kali dan berharap hasil yang berbeda.” –
Albert Einstein
Kenapa Tak Ada ‘98 Baru?
Pertanyaan berikutnya yang sering
jadi renungan : kenapa tidak ada lagi pergolakan sebesar 1998? Jawabannya
kompleks. Pertama, kondisi ekonomi Wakanda saat ini meski sulit, tidak sampai
sekacau krisis moneter 1998. Kedua, media sosial sudah menjadi katup pelepas
emosi. Orang bisa mengamuk, mencaci, bahkan membakar semangat lewat komentar,
tanpa perlu turun ke jalan. Ketiga, aparat keamanan kini lebih sigap, lebih
siap membubarkan kerumunan bahkan sebelum membesar. Keempat, elite politik
belajar dari sejarah. Mereka pintar menjaga stabilitas semu dengan cara
membagi-bagi kue kekuasaan agar semua pihak merasa kenyang. Akibatnya, amarah
masyarakat terjebak dalam dunia maya, tidak lagi mewujud dalam aksi nyata.
“Revolusi tidak terjadi ketika
rakyat lapar, tetapi ketika rakyat kehilangan harapan.” – Alexis de Tocqueville
Polisi : Korban Kentut yang Menjaga Bau
Di tengah hiruk-pikuk ini, polisi
sering menjadi pihak yang paling menderita. Mereka bukan yang kentut, bukan
pula yang menikmati hasilnya, tapi justru ditugaskan untuk mengipasi baunya
agar tidak semakin menyebar. Aparat lapangan ibarat petugas kebersihan di
toilet umum : tidak pernah ikut membuang, tapi harus beres-beres bau yang
ditinggalkan. Ironinya, saat bentrokan terjadi, mereka difitnah sebagai tukang
pukul rakyat, padahal kenyataannya hanya menjalankan perintah. Posisi serba
salah inilah yang membuat mereka menjadi korban abadi dari kentut politik.
“Manusia adalah makhluk yang bisa
terbiasa dengan apa saja, dan itulah kekuatannya.” – Fyodor Dostoevsky
Lingkaran Setan Kentut Politik
Pola ini sesungguhnya hanyalah
sebuah lingkaran setan. Penghuni gedung parlemen yang terhormat mengeluarkan
kentut berupa kebijakan dan serangan fajar. Rakyat menghirupnya dengan
terpaksa. Rakyat marah, tapi tetap menerima amplop pada pemilu berikutnya.
Penghuni gedung parlemen yang terhormat kembali terpilih, lalu kentut lagi. Dan
siklus ini terus berjalan, seolah menjadi ekosistem aroma politik yang tak berkesudahan.
Semua pihak memainkan perannya dengan konsisten, sehingga wajar jika tidak ada
perubahan berarti dalam kualitas demokrasi Wakanda.
“Mereka yang tidak belajar dari
sejarah akan dikutuk untuk mengulanginya.” – George Santayana
Penutup : Harapan atau Bau Abadi?
Pada akhirnya, kita hanya bisa
bertanya : mau sampai kapan kita terus menjadi penghirup setia serangan fajar?
Jika rakyat berhenti menerima bau itu, mungkin para penghuni gedung parlemen
yang terhormat akan belajar berhenti kentut sembarangan. Namun kenyataannya,
banyak dari kita masih rela menukar masa depan dengan aroma serangan fajar yang
singkat. Apakah ini berarti kita memang bangsa dengan paru-paru terkuat di
dunia? Atau hanya bangsa yang terlalu terbiasa dengan bau hingga tak lagi peka?
Jawabannya ada pada pilihan kita di bilik suara.
“Perubahan tidak akan datang jika
kita menunggu orang lain atau waktu lain. Kitalah orang yang kita tunggu.
Kitalah perubahan yang kita cari.” – Barack Obama
Refleksi Harian
“Hidup adalah pilihan : mencium
bau dan pasrah, atau menutup hidung dan melangkah pergi. Demokrasi adalah
cermin, ia hanya memantulkan wajah kita sendiri.”
Komentar
Posting Komentar