Ketika Amanah Jadi Koleksi : Doa yang Menumpuk di Langit
Negeri
Seribu Jabatan
Indonesia sering digambarkan sebagai negeri yang gemah ripah loh jinawi,
tempat di mana alam subur, laut kaya, dan masyarakat hidup rukun. Namun, di
balik gambaran indah itu, ada fenomena unik yang sulit kita jumpai di belahan
dunia lain : rangkap jabatan sebagai gaya hidup.
Satu orang bisa merangkap sebagai wakil menteri, komisaris utama, anggota
dewan pengawas, bahkan tokoh panutan; semua dalam satu waktu. Seakan jabatan
bukan lagi amanah yang harus dijaga, melainkan koleksi pribadi untuk
dipamerkan.
"Kekuasaan
cenderung korup, dan kekuasaan yang absolut korup secara absolut." — Lord
Acton
Jabatan
Sebagai Koleksi, Bukan Amanah
Di negeri ini, jabatan bukan lagi tanda kepercayaan rakyat, melainkan
simbol status. Yang sudah punya satu kursi, masih ingin dua. Yang sudah duduk
di dua kursi, masih berambisi menambah lagi. Rasa cukup menjadi barang
mewah yang nyaris punah.
Padahal, dalam logika sehat, satu jabatan penuh waktu sudah menuntut
energi, dedikasi, dan fokus. Namun, kita melihat pejabat yang mengaku bisa
menjalankan lima hingga enam jabatan sekaligus, dan tetap merasa tidak ada yang
salah.
Di balik dalih “efisiensi” atau “sinergi,” rakyat justru membaca fenomena
ini sebagai monopoli jabatan. Yang kuat semakin kuat, yang
beruntung semakin kenyang. Sementara yang lemah, dibiarkan mengais sisa rezeki
yang tercecer.
"Keserakahan
adalah lubang tak berdasar yang membuat manusia terus berusaha memuaskan
keinginannya tanpa pernah tercapai." — Erich Fromm
Rakyat
yang Tersisih
Ketika elite sibuk menumpuk jabatan, rakyat kecil menghadapi kenyataan
pahit : harga kebutuhan pokok naik, lapangan kerja sempit, dan kompetisi
semakin tak adil.
Ada ibu-ibu yang bangun subuh demi antre beras SPHP. Ada ojek daring yang
berdoa keras agar orderan pertama cepat datang. Ada sarjana muda yang gagal
seleksi kerja, bukan karena kurang pintar, tetapi karena tak punya “koneksi.”
Sementara itu, deretan jabatan elit diumumkan seperti pencapaian
prestisius. Seakan lupa bahwa di balik papan nama yang berderet itu, ada rakyat
kecil yang hanya bisa berjuang untuk sekadar bertahan hidup.
"Ujian
dari kemajuan kita bukanlah apakah kita menambah kelimpahan bagi mereka yang
sudah banyak; tetapi apakah kita memberi cukup bagi mereka yang memiliki
sedikit." — Franklin D. Roosevelt
Tuhan
yang Direpotkan
Fenomena ini akhirnya menciptakan jurang spiritual : doa rakyat kecil
menumpuk di langit. Doa ibu-ibu yang bingung besok makan apa. Doa bapak-bapak
yang terhimpit cicilan. Doa mahasiswa yang tak sanggup bayar kos, padahal
sedang menimba ilmu.
Tuhan mendengar semuanya. Tapi seakan-akan, Tuhan “direpotkan” lebih berat
hanya karena manusia di bumi terlalu tamak untuk berbagi peran.
Kasihan bukan karena Tuhan lemah, melainkan karena kita manusia
semakin tidak tahu diri.
"Ketika
kekuatan cinta mengalahkan cinta pada kekuasaan, dunia akan mengenal
damai." — Jimi Hendrix
OTT
KPK, Cermin Buram Kekuasaan
Fenomena rangkap jabatan semakin nyata ketika Komisi Pemberantasan Korupsi
(KPK) belakangan melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT)
terhadap sejumlah pejabat.
Yang terbongkar bukan hanya penyimpangan individu, tapi juga pola :
semakin banyak jabatan yang dirangkap, semakin besar peluang terjadinya
penyalahgunaan. Jabatan menjadi pintu masuk ke proyek, konsesi, dan transaksi
gelap.
Namun, yang selalu diucapkan publik figur itu sama : “Itu ulah oknum.”
Padahal, rakyat makin sadar bahwa oknum sudah menjelma sistem.
"Ketidakadilan
di manapun adalah ancaman bagi keadilan di seluruh dunia." — Martin Luther
King Jr.
Politik
Transaksional, Luka yang Terus Menganga
Banyak pejabat di negeri ini bukanlah hasil seleksi meritokrasi, melainkan
hasil politik transaksional. Jabatan diraih bukan karena
kompetensi, tetapi karena modal yang sudah ditanam untuk membeli tiket
kekuasaan.
Begitu duduk di kursi, orientasi pertama bukan melayani rakyat, melainkan balik
modal. Sehingga, agenda negara perlahan berubah menjadi agenda
kelompok kecil yang berada di lingkaran kekuasaan.
Rakyat? Lagi-lagi hanya jadi alat legitimasi.
"Harga
dari sikap apatis terhadap urusan publik adalah diperintah oleh orang
jahat." — Plato
Janji
Manis yang Hambar
Satu hal yang menarik : meski fakta demi fakta terbongkar, para pejabat
tetap lantang berkata, “Kami bekerja demi rakyat.”
Sayangnya, rakyat sulit menemukan buktinya. Harga pangan melambung,
pelayanan publik melambat, dan keadilan sosial semakin terasa jauh. Yang
dipamerkan justru perayaan jabatan, seremonial kekuasaan, dan klaim pencapaian
yang tak menyentuh kebutuhan rakyat.
Bohong besar jika mereka masih berkata bekerja untuk
rakyat, sebab dalam praktik harian, jejak rakyat nyaris tak terlihat dalam
prioritas mereka.
"Fakta
tidak berhenti ada hanya karena diabaikan." — Aldous Huxley
Refleksi
Moral dan Etika
Masalah terbesar kita bukan ketiadaan hukum, tetapi ketiadaan etika
dalam menegakkan hukum.
Perilaku serakah tidak serta-merta melanggar undang-undang, tetapi jelas
melukai rasa keadilan publik.
Rakyat tidak menuntut kesempurnaan, mereka hanya menuntut kepatutan.
Kalau jabatan sudah cukup satu, mengapa harus dirangkap lima? Kalau amanah
sudah berat, mengapa malah ditambah beban yang lain?
Di sinilah letak persoalan : para pemimpin seolah lupa bahwa jabatan
adalah titipan, bukan warisan.
"Hampir
semua orang bisa bertahan dalam kesulitan, tetapi jika ingin menguji karakter
seseorang, berikanlah kekuasaan." — Abraham Lincoln
Jalan
Pulang : Membaca Doa Rakyat
Jika negeri ini ingin kembali sehat, para pemimpin harus berani membaca
doa rakyat kecil yang menumpuk di langit.
Doa yang sederhana, tapi penuh makna :
“Semoga besok bisa makan.”
“Semoga anak saya bisa sekolah.”
“Semoga pekerjaan halal datang.”
Doa-doa itu seharusnya jadi alarm moral bagi penguasa.
Karena jika doa orang miskin yang terus naik tidak direspons dengan kebijakan
nyata, maka yang akan lahir adalah frustrasi social; dan itu
jauh lebih berbahaya daripada sekadar kritik di media sosial.
"Kemiskinan
adalah bentuk kekerasan paling buruk." — Mahatma Gandhi
Bukan
Kebencian, Tapi Cinta
Artikel ini bukanlah luapan kebencian terhadap pemerintah atau pejabat.
Justru sebaliknya : lahir dari rasa sayang terhadap negeri ini.
Karena bangsa ini terlalu indah untuk dibiarkan dipimpin oleh mereka yang
sibuk mengoleksi jabatan tanpa pernah merasa cukup.
Karena rakyat terlalu berharga untuk sekadar jadi alat politik.
Karena Tuhan terlalu mulia untuk terus-menerus kita repotkan hanya karena kita
enggan belajar rasa cukup.
"Satu-satunya
hal yang diperlukan agar kejahatan menang adalah ketika orang baik tidak
melakukan apa-apa." — Edmund Burke
Refleksi
Harian :
“Jabatan
adalah titipan, bukan koleksi. Kekuasaan adalah amanah, bukan warisan. Dan doa
rakyat kecil adalah suara Tuhan yang tidak boleh kita abaikan.”
Disclaimer :
Tulisan
ini bukan dibuat atas dasar kebencian kepada pemerintah atau pejabat publik.
Semua yang tertuang lahir dari rasa sayang dan kepedulian terhadap bangsa,
sebagai bahan refleksi bersama agar setiap pihak dapat kembali menempatkan diri
pada posisi yang seharusnya.
Komentar
Posting Komentar