Romansa di Tanah Anarki

Cinta, Luka, dan Bertahan Hidup di Tengah Ketimpangan

Lagu ini terdengar seperti puisi. Lembut namun getir. Liris namun menggigit. Lagu "Sunset di Tanah Anarki" bukan sekadar karya musik, tapi semacam doa di tengah reruntuhan peradaban, jeritan cinta di antara puing-puing keadilan sosial.

Lagu ini membawa kita ke sebuah dunia; yang sebenarnya dunia kita juga; di mana perang tak harus berupa senapan dan darah, tapi bisa berbentuk penggusuran, PHK, utang yang menumpuk, akses kesehatan yang mahal, dan harga bahan pokok yang melambung. Di dunia itu, cinta bukan tentang bunga dan cokelat, tapi tentang bertahan hidup bersama-sama, meski sakit, meski lapar.

 

Kaum Marginal : Selalu di Tepi

Dalam setiap narasi pembangunan, kaum marginal nyaris selalu absen dalam rencana. Mereka yang bekerja serabutan, mengais rezeki dari pagi buta hingga malam pekat, kini semakin terdesak. Harga kebutuhan naik, tapi upah tetap. Belum lagi harus bersaing dengan sistem digital yang menyerap segalanya ke dalam aplikasi.

Buruh pabrik, tukang bangunan, pedagang kecil, ojek konvensional; semuanya seakan ditarik perlahan ke dalam lubang yang sama : keterpinggiran. Mereka tetap bergerak, tapi makin jauh dari pusat putaran ekonomi.

Menurut data Bank Dunia, jumlah penduduk miskin di Indonesia per Maret 2025 mencapai lebih dari 100 juta orang, dan angka itu belum termasuk yang nyaris miskin, atau yang hidupnya hanya terpaut satu musibah dari keterpurukan. Sementara itu, kekayaan 1% orang terkaya terus naik, bahkan dalam masa resesi.

Negara kadang hadir, tapi lebih sering lewat poster bantuan dan janji populis. Yang lebih nyata justru laporan kenaikan angka konsumsi rakyat; yang sayangnya tak selalu berarti perbaikan kesejahteraan. Banyak yang harus berutang hanya untuk bertahan hidup, hanya agar dapur tetap mengepul.

 

Kaum Menengah yang Mulai Merosot

Yang menengah pun kini mulai tergelincir. Mereka yang dulunya bisa menyekolahkan anak di tempat layak, sekarang mulai menyesuaikan diri. Dulu punya dua motor, kini tinggal satu. Dulu bisa rutin kontrol kesehatan, sekarang harus menunggu gejala memburuk.

Inflasi tak pandang kasta. Harga listrik, sewa rumah, susu anak, biaya sekolah, semua naik. Tapi gaji? Tidak. Bahkan sebagian justru kehilangan pekerjaan, atau harus menerima pemangkasan tunjangan.

Banyak pekerja kantoran kini terjebak kontrak sementara atau status freelance. Tidak ada jaminan hari tua, tidak ada cuti dibayar. Semua serba "fleksibel", tapi dengan beban penuh. Ini bukan naik kelas, ini menyamar jadi kuat padahal rapuh.

 

Ketimpangan yang Terstruktur dan Mengakar

Ketidakadilan ini bukan sekadar nasib sial atau kesalahan individu. Ia sudah menjadi bagian dari sistem.

·       Upah minimum ditetapkan, tapi harga kebutuhan dasar tidak dikendalikan.

·       Pendidikan gratis hanya sebatas sekolah dasar, tapi kualitas dan akses tetap timpang. Sekolah unggulan butuh ongkos lebih, les tambahan, dan relasi sosial.

·       Asuransi kesehatan BPJS sering membuat rakyat harus "berdoa lebih dulu" agar tidak masuk ruang rawat yang penuh atau kehabisan obat.

Layanan publik yang mestinya menyelamatkan justru jadi lotere. Mereka yang punya uang bisa mempercepat antrian, memilih rumah sakit yang nyaman, dan menyekolahkan anak di tempat terbaik.

 

Yang Bertahan : Yang Licik atau yang Beruntung

Masalahnya, yang bertahan bukan selalu yang paling jujur, paling tulus, atau paling rajin. Justru sebaliknya, dalam dunia yang makin keras, kadang hanya mereka yang berani melanggar pagar moral yang bisa menyelamatkan diri lebih dulu.

Korupsi kecil-kecilan di level bawah dianggap lumrah. Markup anggaran, akal-akalan insentif, laporan fiktif, semuanya sudah seperti bahasa sehari-hari. Apakah mereka jahat? Tidak selalu. Kadang mereka hanya tidak ingin kalah lebih dulu.

Ketika dunia serba tidak adil, banyak yang memilih untuk tidak adil juga. Demi istri, demi anak, demi sesuap nasi. Ini bukan pembenaran, tapi pengakuan. Bahwa sistem yang tak berpihak, perlahan mengikis etika dan integritas, hingga semuanya terasa wajar.

 

Dampak Tak Terlihat : Lelah, Sinis, dan Takut Bermimpi

Ketimpangan yang panjang menciptakan luka kolektif. Banyak orang kehilangan harapan, bukan karena gagal, tapi karena terlalu sering dipinggirkan. Yang muda jadi sinis. Yang tua jadi lelah. Yang kecil tak lagi berani bermimpi.

Normalisasi ketidakadilan membuat banyak orang merasa tak ada gunanya jujur, tak ada gunanya protes, karena hidup toh tetap keras. Di titik inilah masyarakat pelan-pelan berhenti percaya. Bukan hanya kepada negara, tapi juga pada satu sama lain.

Dan kalau rasa percaya itu hilang, kita tinggal di negeri yang rusak diam-diam, bukan oleh perang, tapi oleh pembiaran.

 

Cinta yang Bertahan, Meski Luka

Di tengah semuanya, cinta tetap ada. Tapi bukan cinta yang manis dan mudah. Cinta yang tumbuh di tanah anarki adalah cinta yang penuh luka. Bukan sekadar pelukan dan janji, tapi gotong-royong membayar listrik, saling menguatkan saat uang sekolah belum ada, dan menghibur anak-anak dengan kreativitas, bukan barang mahal.

Lirik lagu SID memberi ruang bagi cinta yang tidak cengeng :

"Perang 'kan berakhir, cinta 'kan abadi
Di tanah anarki, romansa terjadi."

Ini semacam pengingat bahwa bahkan di tengah reruntuhan, masih ada alasan untuk berpegangan. Masih ada yang bisa diperjuangkan bersama.

 

Bertahan Tidak Sama dengan Diam

Kadang kita terlalu suka dengan narasi bertahan : "yang penting ikhlas", "sabar saja", "rezeki sudah ada yang atur." Tapi hari ini, narasi seperti itu tak lagi cukup. Ia harus dibarengi keberanian bertanya :
kenapa yang kaya bisa makin aman, sedangkan yang miskin makin terjepit?

Di sinilah romantisme harus beralih jadi realisme. Kita tidak bisa terus-menerus terhibur oleh cerita-cerita haru. Kita harus mengubah cerita itu. Kalau tidak, kita hanya jadi penonton dalam hidup sendiri.

 

Ajakan Kecil untuk Bertindak

Mengubah sistem memang berat, tapi bukan berarti kita tak bisa berbuat. Mari mulai dari hal-hal yang sederhana :

·       Beli dari warung tetangga, bukan hanya dari marketplace besar.

·       Jangan pilih pemimpin karena janji instan.

·       Dukung yang jujur, bukan yang licik tapi "dekat".

·       Jika bisa, bantu satu anak sekolah. Satu keluarga pun cukup.

·       Jangan takut berkata benar, meski sendirian di rapat kantor.

 

Seperti kata Martin Luther King Jr. :

“Faith is taking the first step even when you don't see the whole staircase.”

 

Kepercayaan bukan menunggu semuanya jelas dan pasti. Kepercayaan adalah berani melangkah; sekalipun belum tahu apakah ada anak tangga berikutnya. Dan dalam hidup yang tidak pasti ini, justru langkah-langkah itulah yang mengubah segalanya.

Kita mungkin tak bisa menyelamatkan dunia, tapi kita bisa menyelamatkan sedikit bagian kecilnya, setiap hari.

 

Kupotong Sayapku, Agar Kita Sama-Sama Berjuang

Lirik awal lagu ini terasa seperti pernyataan iman :

"Andai ku malaikat, kupotong sayapku
Dan rasakan perih di dunia bersamamu..."

Ia bukan hanya tentang cinta dua manusia. Tapi juga tentang komitmen untuk tidak meninggalkan yang tertinggal. Untuk tidak terbang sendiri saat yang lain terpuruk.

Hari ini, kita butuh lebih banyak orang yang bersedia "memotong sayapnya". Turun ke bumi, melihat sekitar, dan berkata : "aku di sini bersamamu." Bukan untuk menyelamatkan, tapi untuk sama-sama bertahan. Sama-sama membangun. Sama-sama menyembuhkan dunia yang telah lama sakit.

Kalau tanah ini adalah tanah anarki; maka mari kita jadikan ia juga tanah empati.

 

Reflektif Harian :

Apa yang Bisa Kita Lakukan Hari Ini?
Pilih satu tindakan kecil, dan lakukan hari ini. Bukan besok. Hari ini.
🔹 Mungkin itu mendengarkan keluhan seorang teman tanpa menyela.
🔹 Mungkin itu membayar barang dagangan tanpa menawar, meski kamu bisa.
🔹 Mungkin itu menyisihkan sepuluh ribu rupiah untuk membantu tetanggamu belanja.
🔹 Atau sekadar mendoakan seseorang yang sedang terpuruk, dan menanyakan kabarnya.

Karena kadang, dunia tidak berubah lewat kebijakan. Tapi lewat belas kasih kecil yang terus dilakukan tanpa lelah.

Komentar

Total Kunjungan :