WFH Bukan Obat Demam : Tolak Kerja Saat Sakit
Pagi itu, sebuah percakapan
sederhana terjadi antara seorang karyawan dan atasannya. Bukan dialog yang
dramatis, tidak melibatkan bentakan atau tekanan yang vulgar. Justru
berlangsung tenang. Tapi maknanya dalam sekali.
Seorang anggota tim menelepon
atasannya :
“Mas, maaf... hari ini aku izin
nggak ke kantor ya. Kayaknya aku demam dan agak pusing. Aku WFH aja ya, Mas.
Nggak enak kalau maksain ngantor.”
Atasannya menjawab :
“NO. Saya nggak izinkan.”
Karyawan itu sontak salah paham.
Mengira bosnya tidak menerima alasan sakit dan menuntutnya tetap datang ke
kantor. Tapi ternyata bukan itu maksudnya.
“Maksud saya 'NO' karena saya nggak
izinkan kamu WFH.”
“Justru karena kamu SAKIT, makanya
kamu harus ISTIRAHAT. WFH itu bukan opsi tengah-tengah antara sehat dan sakit.
Kalau kamu demam, solusinya BUKAN WFH. Obat demam itu bukan laptop, bukan Zoom
call, tapi minum obat, vitamin & istirahat.”
Dialog ini bisa kita tutup dengan
senyuman. Atasan yang memahami. Karyawan yang merasa dihargai. Dan yang paling
penting : prinsip penting yang perlu kita soroti dalam dunia kerja modern; bahwa
bekerja dari rumah tidak boleh dijadikan dalih untuk terus produktif di tengah
kondisi tubuh yang sebenarnya perlu istirahat.
Normalisasi WFH Saat Sakit : Bahaya
yang Terlihat Sepele
Pandemi mengajarkan kita banyak hal.
Salah satunya adalah betapa fleksibelnya cara kerja yang bisa kita adaptasi.
Bekerja dari rumah (work from home atau WFH) kini bukan lagi sesuatu
yang aneh atau terbatas hanya untuk profesi tertentu. Bahkan beberapa
perusahaan menjadikan skema hybrid sebagai kebijakan permanen. Dan itu bagus.
Tapi di tengah semua kemajuan dan
fleksibilitas ini, terselip satu jebakan yang sering tak kita sadari : normalisasi
bekerja meskipun sakit, dengan dalih "kan cuma dari rumah."
Padahal :
· Demam tetap demam, meskipun tubuhnya berada di rumah.
· Sakit kepala tetap membuat konsentrasi pecah, meskipun
lokasinya tidak di kantor.
· Daya tahan tubuh tetap menurun, meskipun tugasnya hanya via
Zoom dan spreadsheet.
WFH bukan “jalan tengah” antara
sehat dan sakit. Ia bukan “opsi kerja ringan” ketika kita tak sanggup ke
kantor. Ia bukan pengganti izin sakit.
Menawarkan WFH saat tubuh sakit
justru bentuk lain dari tekanan kerja yang terselubung.
“Tapi Kan Nggak Enak Kalau Nggak
Kerja Sama Sekali?”
Kita hidup dalam budaya kerja yang
sering kali mengukur nilai seseorang dari seberapa sibuk dia terlihat.
Seakan-akan, kalau kita bisa tetap membalas email meskipun lagi demam 38
derajat, maka kita dedicated. Kalau masih bisa ikut meeting sambil
selimutan, maka kita berintegritas. Kalau sakit tapi tetap kerja, kita dianggap
bertanggung jawab.
Padahal, itu bukan tanggung
jawab; itu overworking yang terselubung.
Dan bahayanya, kita tidak hanya
melakukan itu kepada diri sendiri. Kita juga bisa secara tidak sadar
menularkan kebiasaan ini ke orang lain.
Seorang karyawan yang merasa tidak
enak izin karena melihat rekan-rekannya tetap aktif meskipun sakit. Seorang
atasan yang tidak terang-terangan menolak izin, tapi malah menyodorkan pilihan,
“Kalau WFH bisa nggak?” Alih-alih meringankan beban, ini justru menebalkan
standar kerja tidak sehat.
Menyamakan WFH dengan Kerja Ringan :
Sebuah Salah Kaprah
Mungkin sebagian orang berpikir,
“Lho, WFH kan ringan. Nggak perlu ke luar rumah. Bisa sambil tiduran. Kalau
cuma review dokumen atau balas email, itu kan nggak seberapa.”
Sekilas masuk akal. Tapi mari kita
perjelas.
Bekerja tetaplah bekerja. Ia membutuhkan fokus, energi, perhatian. Otak tetap harus
aktif, mata tetap harus menatap layar, pikiran tetap harus mencerna informasi
dan mengambil keputusan.
Bahkan, WFH yang dilakukan dalam
kondisi tidak optimal bisa berakibat dua kali lebih buruk :
1.
Kinerjanya jadi
tidak maksimal.
2.
Proses
pemulihannya jadi lebih lambat.
Akhirnya, beban kerja tetap
menumpuk, dan kesehatan pun tidak membaik. Situasi ini bisa menciptakan
lingkaran setan : tidak cukup sehat untuk bekerja maksimal, tapi terlalu
‘berfungsi’ untuk benar-benar istirahat.
Istirahat Itu Tanggung Jawab
Profesional
Dalam dunia kerja yang penuh
tekanan, kita perlu mengubah narasi tentang “istirahat” dari yang tadinya
dianggap kelemahan, menjadi bentuk tanggung jawab.
Karena :
· Seorang karyawan yang tidak pulih sempurna akan menurunkan
performa jangka panjang.
· Rekan kerja yang terbiasa melihat koleganya tetap kerja
walaupun sakit akan merasa malu atau bersalah kalau mereka istirahat.
· Budaya kerja yang sehat tidak bisa tumbuh di atas kompromi
semacam ini.
Jadi ketika atasan dalam cerita di
atas berkata, “Obat demam itu bukan laptop, tapi istirahat,” itu bukan hanya
kalimat bijak. Itu adalah prinsip manajerial yang penting.
Kapan WFH Masuk Akal, Kapan Harus
Katakan Tidak
WFH adalah alat. Dan seperti semua
alat, ia harus digunakan dengan tepat. Dalam situasi seperti :
· Orang tua yang harus mendampingi anak sakit tapi masih bisa
kerja,
· Karyawan yang sedang mengurus administrasi rumah (seperti
perpanjangan STNK atau tunggu paket penting),
· Kondisi cuaca atau transportasi yang ekstrem tapi tidak
membuat karyawan sakit,
…WFH bisa menjadi solusi yang sehat
dan masuk akal.
Tapi ketika tubuh sudah mengirim sinyal tegas; demam, flu berat, nyeri kepala, mual, kelelahan parah; maka respon paling profesional adalah berhenti sejenak. Tidak dengan laptop terbuka, tapi dengan istirahat yang serius.
WFH Tidak Salah. Tapi Normalisasi
Bekerja Saat Sakit Itu Masalah
Jangan salah : WFH bukan musuh.
Justru ia alat bantu yang sangat berharga bagi fleksibilitas kerja. Tapi kita
perlu berhati-hati agar tidak menempatkannya pada tempat yang salah.
Karena kalau kita terus-terusan
membiasakan diri untuk tetap produktif meskipun tubuh berkata “tidak sanggup”,
kita sedang menciptakan sistem kerja yang :
· Tidak manusiawi,
· Tidak berkelanjutan,
· Dan tidak mendukung kesehatan mental maupun fisik karyawan.
Kita juga sedang mendidik generasi
kerja berikutnya untuk merasa bersalah ketika mengambil waktu untuk sembuh.
Jangan Ajari Tim Kita Untuk Terbiasa
Lupa Diri
Sebagai pemimpin, kita sering jadi panutan; entah kita sadari atau tidak. Ketika kita membiasakan tim untuk tetap kerja dalam kondisi sakit, kita sedang membentuk kebiasaan yang akan jadi budaya.
Sebaliknya, saat kita dengan tegas
berkata, “Saya izinkan kamu istirahat. Jangan buka WA Group. Jangan mikir
kerjaan,” kita sedang menciptakan ruang yang sehat. Kita sedang membangun
budaya kerja yang manusiawi.
Dan percayalah, tim yang dihargai
seperti itu akan kembali bekerja dengan performa lebih baik, loyalitas lebih
tinggi, dan semangat yang lebih tulus.
Sehat Dulu, Produktif Kemudian
Dalam dunia yang terus bergerak
cepat, kita butuh lebih banyak pemimpin yang bisa berkata “istirahatlah”
dengan ketulusan, bukan pemimpin yang hanya tahu berkata “kerja cepat ya,
meskipun sambil istirahat.”
WFH adalah alat bantu kerja, bukan
solusi untuk menyembuhkan penyakit.
Mari rawat budaya kerja yang sehat.
Jangan biasakan WFH sebagai ‘ganti’ izin sakit. Biarkan karyawan benar-benar
pulih. Biarkan tubuh bekerja menyembuhkan dirinya sendiri tanpa gangguan
notifikasi dan deadline.
Karena dalam jangka panjang, tim
yang sehat lebih menguntungkan dibanding tim yang terlihat sibuk tapi rapuh.
Menutup Laptop Adalah Tindakan Profesional
Menghargai kesehatan bukan berarti malas. Mengambil waktu untuk pulih
bukan tanda rendahnya komitmen. Justru di situlah bentuk kedewasaan bekerja
yang sesungguhnya.
Kita perlu membiasakan satu prinsip sederhana dalam organisasi kita : “Kerja
itu penting, tapi kamu juga penting.”
Karena perusahaan yang sehat lahir dari individu-individu yang diberi ruang
untuk sehat; secara fisik, mental, dan emosional.
Sakit adalah sinyal. Istirahat adalah tanggapan.
Kalau kita terus-menerus menunda istirahat demi terlihat “tetap
bekerja”, kita sedang menumpuk utang yang kelak dibayar mahal : dalam bentuk kelelahan kronis, burnout, atau
bahkan penyakit jangka panjang.
Maka mulai hari ini, mari bangun budaya kerja yang lebih waras. Yang
tahu kapan harus menyalakan laptop; dan yang tahu kapan harus menutupnya.
Reflektif Harian
Hari ini, jika tubuhmu lelah, dengarkan dia. Jangan ajari
dirimu sendiri untuk mengabaikan rasa sakit demi memenuhi ekspektasi yang
bahkan tidak manusiawi.
Cobalah tanya ke diri sendiri :
“Kalau tubuhku ini adalah timku, sudahkah aku jadi pemimpin yang adil
buat dia?”
Kalau belum, hari ini adalah hari terbaik untuk memulainya.
Matikan notifikasi. Tarik napas panjang. Minum air putih. Tidurlah lebih awal.
Karena esok, dunia akan tetap ada. Tapi kamu hanya punya satu tubuh
untuk menjalaninya.
Komentar
Posting Komentar