FCPA & UK Bribery Act : Pilar Global Anti-Korupsi
Namun, sekadar mengetahui keberadaan
dua hukum tersebut belum cukup. Diperlukan pemahaman mendalam mengenai
substansi, kesamaan dan perbedaan keduanya, serta bagaimana perusahaan; khususnya
melalui departemen compliance; harus bertindak secara aktif dan
strategis agar tidak terjebak dalam pelanggaran yang berisiko tinggi, baik dari
sisi hukum, reputasi, maupun finansial.
1. Apa itu FCPA?
Foreign Corrupt Practices Act (FCPA) adalah undang-undang federal Amerika Serikat
yang disahkan pada tahun 1977. Tujuan utamanya adalah mencegah praktik
penyuapan terhadap pejabat asing dalam rangka memperoleh atau
mempertahankan bisnis.
FCPA memiliki dua komponen utama :
- Anti-Bribery Provisions, yang melarang perusahaan AS,
perusahaan asing yang tercatat di bursa AS, dan individu mana pun yang
berada dalam yurisdiksi AS untuk menyuap pejabat asing.
- Accounting Provisions, yang mewajibkan perusahaan
publik mencatat semua transaksi secara akurat dan menjaga sistem
pengendalian internal yang memadai untuk mencegah dan mendeteksi
penyimpangan.
FCPA secara khusus menargetkan praktik
suap yang terjadi di luar negeri, dan penegakan hukumnya sangat serius.
Pelanggaran FCPA bisa berujung pada denda ratusan juta dolar, pembekuan aset,
dan bahkan penahanan eksekutif senior.
2. Apa itu UK
Bribery Act?
UK Bribery Act 2010 adalah regulasi anti-korupsi dari Inggris
yang jauh lebih luas cakupannya dibanding FCPA. Dikenal sebagai salah satu
peraturan anti-penyuapan paling ketat di dunia, UK Bribery Act tidak hanya
mencakup penyuapan pejabat asing, tetapi juga semua bentuk suap; baik di dalam negeri
maupun luar negeri.
Undang-undang ini mencakup empat
pelanggaran utama :
- Menyuap orang lain
- Menerima suap
- Menyuap pejabat publik asing
- Kegagalan organisasi komersial
untuk mencegah suap; pelanggaran
ini berlaku ketika perusahaan tidak memiliki adequate procedures
untuk mencegah tindakan penyuapan oleh karyawannya atau pihak ketiga yang
bertindak atas nama perusahaan.
Yang membuat UK Bribery Act sangat
tegas adalah prinsip strict liability untuk perusahaan yang gagal
mencegah suap, walaupun pimpinan perusahaan tidak terlibat langsung dalam
praktik tersebut.
3. Kesamaan
antara FCPA dan UK Bribery Act
Meskipun berasal dari dua negara yang
berbeda, FCPA dan UK Bribery Act memiliki beberapa titik temu yang penting :
- Fokus pada pencegahan penyuapan
lintas negara, terutama
terhadap pejabat publik.
- Yurisdiksi ekstrateritorial : Keduanya berlaku tidak hanya
untuk entitas di dalam negeri, tetapi juga bagi perusahaan asing yang
melakukan bisnis di AS atau Inggris.
- Tuntutan terhadap tata kelola
yang baik dan sistem pengendalian internal : Perusahaan diwajibkan untuk
menjaga transparansi, akuntabilitas, dan pencatatan transaksi yang benar.
- Sanksi yang berat : Keduanya dapat menjatuhkan
hukuman pidana dan perdata berupa denda besar, pembatasan kegiatan usaha,
bahkan hukuman penjara bagi individu.
- Dorongan terhadap budaya etika
perusahaan : Baik FCPA
maupun UK Bribery Act mendorong perusahaan untuk menanamkan budaya
antikorupsi secara menyeluruh.
4. Perbedaan
antara FCPA dan UK Bribery Act
Meski serupa dalam tujuan, ada
beberapa perbedaan penting yang patut diperhatikan :
|
Aspek |
FCPA (AS) |
UK Bribery Act (Inggris) |
|
Cakupan suap |
Hanya ke pejabat asing |
Semua bentuk suap (publik dan
swasta) |
|
Pertanggungjawaban perusahaan |
Tidak otomatis; harus ada pembuktian
kesalahan langsung |
Perusahaan bisa dituntut hanya
karena gagal mencegah |
|
Definisi pelanggaran |
Terbatas pada suap untuk memperoleh
bisnis |
Lebih luas, termasuk suap untuk
keuntungan pribadi |
|
Pembelaan hukum |
Tidak secara eksplisit mengenal
“adequate procedures” |
Menyediakan pembelaan jika
perusahaan bisa membuktikan adanya prosedur pencegahan yang memadai |
|
Penegakan hukum |
Dilakukan oleh SEC dan DOJ |
Dilakukan oleh Serious Fraud Office
(SFO) |
5. Peran
Strategis Departemen Compliance
Dalam konteks kedua hukum ini, departemen
compliance menjadi garda terdepan dalam memastikan bahwa perusahaan
beroperasi sesuai dengan norma hukum dan etika global. Peran mereka bukan hanya
administratif, tetapi strategis dan lintas fungsi. Berikut adalah peran
pentingnya :
a. Menerapkan
Kebijakan Antikorupsi
Departemen compliance bertanggung
jawab menyusun dan menerapkan kebijakan antikorupsi yang selaras dengan standar
FCPA dan UK Bribery Act. Ini termasuk :
- Kode etik
- Protokol pelaporan suap
- Aturan pemberian hadiah dan
jamuan bisnis
- Prosedur due diligence terhadap
pihak ketiga
b. Pelatihan dan
Edukasi Karyawan
Setiap karyawan; dari level staf
hingga direksi; harus memahami risiko penyuapan dan bagaimana menghindarinya.
Compliance harus menyelenggarakan pelatihan rutin dan menyediakan panduan
praktis yang mudah dipahami.
c. Due Diligence
Mitra Bisnis
FCPA dan UK Bribery Act sama-sama
menuntut kehati-hatian dalam memilih agen, distributor, kontraktor, maupun
joint venture partners. Compliance harus memastikan setiap mitra telah
diperiksa latar belakangnya dan memahami kewajiban etis yang sama.
d. Monitoring dan
Audit
Compliance perlu merancang sistem
audit internal yang mampu mengidentifikasi transaksi mencurigakan atau pola
risiko yang tidak wajar, serta menyusun mekanisme pelaporan pelanggaran secara
aman dan anonim (whistleblowing channel).
e. Merespons dan
Menangani Pelanggaran
Jika terjadi dugaan pelanggaran,
departemen compliance harus bertindak cepat : melakukan investigasi internal,
bekerja sama dengan auditor hukum eksternal jika perlu, dan menyusun laporan
yang transparan kepada manajemen atau regulator.
6. Implikasi di
Dunia Industri
Implementasi FCPA dan UK Bribery Act
berdampak luas, terutama di sektor-sektor yang rawan interaksi dengan
pemerintah atau yang bergantung pada jaringan agen dan distributor
internasional, seperti :
- Industri manufaktur dan ekspor
- Energi dan pertambangan
- Konstruksi dan infrastruktur
- Farmasi dan alat kesehatan
- Teknologi dan komunikasi
Misalnya, perusahaan manufaktur di
Indonesia yang menjual produknya ke perusahaan Inggris atau terdaftar sebagai
pemasok untuk perusahaan publik AS, harus tunduk pada regulasi ini. Tanpa
sistem compliance yang solid, sebuah perusahaan bisa dihukum karena tindakan
korupsi yang dilakukan agen lokal di luar negeri; meski tanpa sepengetahuan
manajemen pusat.
Sebagai penutup, baik FCPA maupun UK Bribery Act
menegaskan bahwa di era globalisasi ini, standar integritas tidak lagi mengenal
batas negara. Perusahaan harus bertransformasi, tidak hanya dari sisi teknis
bisnis, tetapi juga dari budaya organisasi yang menjunjung tinggi etika dan
kepatuhan.
Di sinilah departemen compliance
berperan sebagai pengawal moral dan hukum perusahaan; membangun pagar-pagar
proteksi melalui edukasi, sistem, dan pengawasan. Dengan implementasi yang
konsisten dan strategis, perusahaan bukan hanya menghindari sanksi, tetapi juga
membangun kepercayaan jangka panjang di mata mitra, regulator, dan masyarakat
luas.
#ComplianceDepartment
#ThirdPartyRisk #DueDiligenceMatters #LegalCompliance
#InternalAuditAndCompliance #BriberyPrevention #AntiBriberyCompliance
#ComplianceStrategy
Komentar
Posting Komentar