Jangan Gantungkan Hidup pada Amplop Coklat
Akhir-akhir ini, lini masa media sosial dan
pemberitaan nasional ramai membahas fenomena yang cukup menggetarkan : PHK
massal. Mulai dari perusahaan startup sampai korporasi besar yang telah lama
berdiri, satu per satu mengumumkan efisiensi, perampingan, hingga pemutusan
hubungan kerja terhadap ribuan karyawan mereka.
Dan ini bukan hanya terjadi di Indonesia.
Gelombang pemutusan hubungan kerja ini juga
melanda raksasa global, perusahaan-perusahaan multinasional yang selama ini
dianggap “terlalu besar untuk gagal”. Bahkan industri teknologi yang biasanya
menjadi magnet bagi talenta terbaik pun tak luput dari badai ini. Google,
Amazon, Microsoft, Meta, semuanya pernah mengumumkan layoff dalam jumlah
signifikan selama setahun terakhir.
Apakah Ini Tanda-tanda Dunia Sedang Tidak
Baik-baik Saja?
Mungkin kita bertanya-tanya, apa sebenarnya
yang sedang terjadi? Bukankah secara teori, semakin banyak jumlah penduduk
berarti konsumsi meningkat, permintaan naik, dan industri seharusnya tumbuh
untuk memenuhi kebutuhan tersebut?
Secara logika :
·
Populasi
meningkat ➡ kebutuhan hidup meningkat
·
Kebutuhan
meningkat ➡ permintaan pasar naik
·
Permintaan
tinggi ➡
produksi meningkat
·
Produksi
meningkat ➡ dibutuhkan lebih banyak pekerja
Sederhana. Logis. Tapi nyatanya, hidup tidak
seindah rumus ekonomi dasar.
Faktanya, peningkatan jumlah penduduk tak
selalu dibarengi dengan peningkatan daya beli. Apalagi jika pertumbuhannya
tidak ditopang oleh distribusi sumber daya yang merata, atau malah disertai
oleh krisis lain seperti inflasi, perang dagang, ketidakstabilan politik, atau
disrupsi teknologi yang mematikan banyak jenis pekerjaan tradisional.
Akibatnya :
·
Pekerjaan
makin langka
·
Persaingan
tenaga kerja makin ketat
·
Angka
pengangguran merangkak naik
·
Kriminalitas,
kemiskinan, dan problem sosial lain ikut tumbuh bersama tekanan hidup
Di Tengah Kecemasan Itu, Apakah Kita Masih
Bisa Merasa Aman?
Di tengah pusaran ketidakpastian ini,
pertanyaannya kemudian mengarah ke dalam : seaman apa posisi kita saat ini di
tempat kerja?
Sebagai karyawan tetap? Bisa jadi tetap
terkena imbas kalau perusahaan kolaps.
Sebagai karyawan performa tinggi? Tetap bisa tersingkir kalau bisnis sedang
lesu.
Loyal dan bisa diandalkan? Bisa saja dilepas saat proyek selesai.
Lagi disayang atasan? Tapi apa jadinya kalau atasan pindah, dan penggantinya justru
tidak cocok dengan gaya kita?
Tak ada jaminan.
Sebuah Kenyataan Pahit : Amplop Coklat Tidak
Kekal
Saya pernah bertemu dengan seseorang yang
selalu datang paling pagi dan pulang paling malam. Ia memberikan seluruh
energinya untuk perusahaan. Bahkan saat diminta kerja lembur di akhir pekan, ia
tidak menolak. Tapi saat perusahaan memutuskan untuk merampingkan tim karena
restrukturisasi, ia tetap masuk dalam daftar PHK.
Pengabdian dan loyalitas memang mulia. Tapi
perlu kita sadari bahwa loyalitas itu tidak selalu dibalas dengan keabadian. Di
dunia kerja modern, kita hanya satu komponen dari mesin besar yang bisa diganti
kapan saja.
Dan saat kita terlalu menggantungkan seluruh
hidup kita pada satu sumber penghasilan; yaitu amplop coklat dari HR setiap
bulan; maka kita sedang menaruh nasib kita di tangan sistem yang tidak stabil.
Saatnya Berani Mempertanyakan : Apakah Ini
Jalan Satu-satunya?
Meski bukan seorang praktisi HR, saya tentu
menyadari pentingnya peran pekerjaan formal. Saya tidak sedang menyuruh semua
orang resign atau berhenti kerja. Tidak.
Tapi saya ingin mengajak kita semua untuk
jujur melihat kenyataan, bahwa pekerjaan tetap hari ini tidak lagi seaman dulu.
Dan karena itu, kita perlu menyiapkan parasut
cadangan. Kita tidak bisa terus-terusan berjalan di atas tali tipis
tanpa jaring pengaman.
Salah satu bentuk jaring pengaman itu adalah
: membangun sumber penghasilan tambahan. Atau setidaknya, punya rencana B.
Bisa jadi :
·
Usaha
sampingan kecil-kecilan
·
Menjual
keahlian kita secara freelance
·
Investasi
yang dikelola secara bijak
·
Atau
merintis bisnis dari hobi yang kita sukai
Berat? Tentu. Tidak ada yang mudah.
Tapi jika kita tidak mulai dari sekarang,
kapan lagi?
Jangan Tunggu Sampai Jatuh, Baru Belajar
Terbang
Kalau hari ini kita masih punya penghasilan
tetap, bersyukurlah. Tapi jangan terlena.
Gunakan masa ini untuk mempersiapkan diri.
Belajar hal baru. Mengasah keterampilan yang bisa dijual di luar pekerjaan
kantor. Bangun relasi, perluas jejaring. Coba buka toko online kecil, ikut
pelatihan digital marketing, atau mulai menulis dan membangun audiens. Kecil
pun tak apa, yang penting jalan.
Karena saat badai datang dan kita kehilangan
pijakan, kita tidak jatuh tanpa pegangan.
Realita yang Harus Diakui : Tidak Semua Dapat
Kompensasi
Dalam sistem ketenagakerjaan kita, ada yang
mendapat pesangon saat terkena PHK. Tapi banyak pula yang tidak seberuntung
itu. Terutama para pekerja kontrak, pekerja outsourcing, atau buruh harian
lepas yang tidak masuk dalam skema perlindungan penuh.
Kalau PHK datang, mereka hanya diberi ucapan
terima kasih. Tidak ada kompensasi. Tidak ada uang pengganti. Tidak ada waktu
persiapan.
Dan dalam posisi seperti itu, jatuh bisa
terasa seperti tertimpa tangga.
Maka, Buatlah Dirimu Tetap Bernilai
Apa pun situasi kerjamu hari ini, cobalah
mulai berpikir : bagaimana membuat dirimu tetap bernilai; bahkan saat tidak
lagi bekerja di perusahaan saat ini.
Nilai itu bisa datang dari :
·
Keahlian
unik yang terus diperbarui
·
Portofolio
karya nyata yang bisa dijual atau ditawarkan
·
Personal
branding yang kuat dan dipercaya
·
Kemampuan
menjalin relasi dan jejaring sosial yang hidup
·
Pengalaman
kerja yang bisa diterjemahkan jadi jasa atau produk
Jangan tunggu sampai kamu tidak punya
apa-apa, baru sadar bahwa ternyata kamu bisa banyak hal.
Akhir Kata : Jangan Serahkan Hidupmu pada
Nasib
Terlalu banyak orang yang hidupnya berputar
hanya pada satu titik : gaji bulanan. Saat titik itu hilang, seluruh sistem
kehidupannya runtuh.
Padahal hidup terlalu berharga untuk
diserahkan pada sistem yang tidak bisa menjamin masa depan kita.
Mulailah sekarang. Bangun pondasi lain di
luar pekerjaan formalmu. Bukan karena kamu tidak bersyukur dengan pekerjaanmu
hari ini, tapi karena kamu ingin tetap bisa bertahan saat dunia berubah arah.
Karena tidak ada yang kekal di dunia ini. Termasuk pekerjaan tetap.
Kutipan Reflektif Harian
"Jangan serahkan seluruh hidupmu pada satu amplop coklat tiap bulan. Karena ketika dunia berubah arah, hanya mereka yang punya sayap cadangan yang masih bisa terbang."
Komentar
Posting Komentar