Saat Migrain Mengingatkan : Hidup Aman Terus Itu Justru Berisiko
Pagi itu, ia bangun dengan kepala
berdenyut hebat. Migrain menyerang tanpa aba-aba, seperti tamu tak diundang
yang langsung duduk di ruang tamu dan menolak pergi. Tidak ada pilihan lain
selain menyerah, membaringkan diri kembali, dan mengirim pesan izin karena
tidak sanggup berangkat kerja.
Di kamar kos yang sempit dan sunyi,
tubuhnya terbaring lemas. Mata terpejam, tapi pikirannya tak bisa diam. Kenapa
hari ini bisa begini? Bukankah tadi malam ia tidur cukup awal? Bukankah minggu
ini terasa tidak terlalu berat?
Namun kadang, justru di saat yang
tampaknya tenang, tubuh memberikan peringatan. Dan ketika tubuh berhenti, batin
mulai berbicara.
Migrain
dan Bisikan Sunyi
Di tengah denyutan yang menusuk
pelipis, muncul bisikan dari dalam; bukan suara siapa-siapa, tapi terasa sangat
dekat.
"Kamu terlalu lama
bermain aman."
Ia terdiam. Kalimat itu terasa tepat
sasaran. Beberapa waktu terakhir, semua langkahnya diputuskan dengan satu
pertimbangan utama : yang penting aman. Yang penting tidak membuat masalah.
Yang penting bisa bertahan.
Segala keputusan seperti dilapisi rasa
takut. Takut gagal. Takut disalahkan. Takut rezeki hilang. Takut mengecewakan
orang. Dan semua ketakutan itu dibungkus rapi dalam label : “bijaksana dan realistis.”
Padahal sejujurnya, ia hanya sedang
berusaha nyaman.
Rasa Aman
: Antara Berkah dan Tembok
Rasa aman tentu penting. Setiap orang
membutuhkannya; untuk bernafas lega, untuk mengisi ulang tenaga, untuk menyusun
langkah. Tapi ada titik di mana rasa aman bisa berubah jadi jeruji yang
membatasi pandangan dan menumpulkan keberanian.
Ia pernah membaca kutipan :
"Zona nyaman itu nyaman karena
kamu tidak bergerak, bukan karena semuanya baik-baik saja."
Dan kutipan itu hari ini terasa
benar-benar pas. Migrain pagi itu seperti alarm dari dalam tubuh; bukan sekadar
karena kelelahan fisik, tapi tanda bahwa ada yang tidak selaras secara batin.
Ia mulai bertanya : apakah selama ini
ia benar-benar sedang berjalan di jalur hidup yang seharusnya, atau hanya
sedang taat pada rasa takut?
Berani
Menantang Hidup, Bukan Melawan Tuhan
Bagi orang yang tumbuh dalam
nilai-nilai religius, seperti dirinya, ada semacam ketakutan untuk melangkah
keluar dari jalan yang dianggap “aman.” Ada rasa takut melawan kehendak Tuhan
bila berani mengambil keputusan besar atau melenceng dari rencana yang
tampaknya sudah mapan.
Ia ingat pernah diajarkan : “Jangan
terlalu banyak bergerak sendiri. Tuhan punya rencana. Tugas kita adalah setia.”
Kalimat itu lama-lama menumbuhkan pola pikir bahwa bertindak aktif bisa
dianggap kurang percaya pada Tuhan.
Namun perlahan, ia mulai belajar
membedakan antara setia
dan pasrah buta.
Tuhan menciptakan manusia bukan untuk
hidup pasif. Ia memberi akal, keingintahuan, keberanian, bahkan gelisah di
dalam dada yang mendorong manusia untuk berkembang. Maka, keluar dari zona
nyaman bukanlah pembangkangan terhadap Tuhan. Justru itu bisa menjadi wujud
dari kepercayaan bahwa Tuhan
akan tetap menyertai, bahkan di jalan yang tidak pasti.
Terkadang, justru karena percaya
kepada Tuhan-lah seseorang berani melangkah ke tempat yang tidak dikenal.
Keberanian
Itu Tidak Sama dengan Kenekatan
Tentu saja, keberanian bukan berarti
sembrono. Ia tahu bahwa tantangan hidup bukan ajang coba-coba tanpa rencana.
Tapi ada perbedaan besar antara melangkah
dengan kesadaran dan lari
dari masalah.
Yang ia maksud dengan “menantang
hidup” bukan menolak nilai atau hidup liar tanpa arah, tapi justru menantang
pola pikir sendiri yang terlalu lama dikendalikan oleh rasa takut, rasa tidak
cukup, dan rasa tidak layak.
Kadang seseorang hanya perlu berani
berkata :
"Coba saja dulu. Kalau gagal,
belajar. Tapi kalau tidak dicoba sama sekali, aku tidak akan tahu kemampuanku
sampai di mana."
Ia yakin banyak orang berada di posisi
serupa. Bertahan di pekerjaan yang tidak disukai karena takut kehilangan
penghasilan. Menyimpan ide besar tapi tidak pernah memulai. Menjadi terlalu
penurut demi diterima, tapi kehilangan jati diri.
Pertanyaannya : sampai kapan?
Migrain
Itu Mungkin Pengingat
Saat tubuhnya mulai tenang, ia
menyadari sesuatu. Mungkin ini bukan hanya soal sakit kepala. Ini bisa jadi
pengingat. Tubuh tidak bohong, dan kadang, migrain datang karena tubuh memikul
terlalu banyak tekanan dari jiwa yang enggan berubah.
Mungkin sudah saatnya :
·
Menghidupkan
kembali mimpi kecil yang dulu ditinggalkan karena dianggap tidak realistis.
·
Menulis
lebih banyak. Berbagi lebih luas, meski tak tahu siapa yang membaca.
·
Belajar
hal-hal baru tanpa harus selalu menunggu "jaminan sukses".
·
Mencoba
jalur baru meski dengan langkah yang kecil dan pelan.
Karena stagnan di tempat yang aman
bukan berarti baik-baik saja. Kadang itu justru membuat seseorang perlahan
kehilangan semangat hidupnya.
Ia mulai percaya, bahwa Tuhan tidak
menghendaki anak-anak-Nya hidup dalam ketakutan yang dibungkus kepatuhan. Ia
percaya, bahwa Tuhan rindu melihat ciptaan-Nya bertumbuh, dan untuk itu,
keberanian harus menjadi bagian dari iman.
Berani
Sedikit Saja Dulu
Ia tahu dirinya bukan tipe pemberani
yang bisa tiba-tiba meninggalkan semuanya dan memulai dari nol. Tapi hari itu,
ia merasa telah mengambil satu langkah kecil; berani mengakui bahwa selama ini
ia terlalu bermain aman.
Dan dari pengakuan itu, lahir
keberanian kecil :
"Aku tidak akan terus hidup hanya
untuk merasa aman. Aku mau belajar menantang diriku sendiri."
Besok mungkin ia akan takut lagi. Tapi
hari ini, ia mulai berjalan.
Bukan melawan Tuhan.
Tapi menantang hidup,
agar bisa menjadi manusia yang lebih utuh.
Komentar
Posting Komentar